| Author: SARDI (220111080049) |
| Date: Saturday, November 15, 2008 13:52 |
Ass.... |
Sunday, November 30, 2008
Re: ringkasan teori
ringkasan teori
| Author: SANDI EFFENDI (220111080030) |
| Date: Thursday, November 13, 2008 14:21 |
Kalau saya boleh menyimpulkan sedikit ringkasan tulisan Sharon L. Van |
Spiritual care in nursing practice
| Author: SANDI EFFENDI (220111080030) |
| Date: Monday, November 24, 2008 19:59 |
Spiritual care selama ini dimensi yang terlupakan dan kurang mendapat |
spiritiual aspect of nursing care
| Author: SARDI (220111080049) |
| Date: Saturday, November 15, 2008 17:32 |
Assalamu'alaikum.. |
Review Artikel
oleh: Sandi effendi
Review dari artikel referensi, ada dua jenis gaya komunikasi dan efeknya
terhadap pasen, pertama perawat dan health care provider memakai gaya
komunikasi biomedikal atau tradisional dengan pendekatan close ended
komunikasi dan pertanyaan tertutup yang berfokus hanya merespon keluhan
pasen tanpa dan sedikit melibatkan partisipasi pasen, dan berkomunikasi
tatkala ada prosedur dan tindakan yang kadang tidak manusiaw., Yang
kedua memakai pendekatan gaya komunikasi biopsikososial yang melibatkan
pasen aktif dalam komunikasi, memutuskan sesuatu yang berhubungan dengan
perawatan pasen. Menurut hasil riset, gaya komunikasi kedua memiliki
beberapa nilai positif diantaranya meningkatkan kepuasan pasen dalam
pelayanan kesehatan, meningkatkan ketaatan dan kepatuhan pasen dalam
pengobatan dan meningkatkan kesembuhan sakit pasen. Pengalaman
dilapangan sebagian besar gaya komunikasi kita mengarah ke gaya pertama
disebabkan karena beberapa faktor; language barrier contohnya, bahasa
arab dan bahasa inggris menjadi kendala kita untuk menerangkan dan
menjelaskan lebih detail dengan bahasa kesehatan kepada pasen yang
berbeda bahasa ibu dan bahasa nasionalnya dengan kita. Selanjutnya, kita
tidak mau diambil pusing sama pasen, dengan banyaknya menerangkan dan
berkomunikasi membikin pasen banyak bertanya dan merintah yang kdang
bukan garapan atau job description kita, contoh gaya orang Mesir, tidak
cukup diterangkan satu kali, mereka akan bertanya berkali-kali dengan
pertanyaan yang sama, yang akhirnya waktu kita juga terbuang padahal
pekerjaan lain menanti, padahal kalau ditelaah salah satu yang
ditanyakan sama mereka adalah pertanyaan garapan profesi lain yang
karena kurangnya komunikasi kepada pasen akhirnya pasen kebingungan dan
bertanya kepada kita, misalnya pasen diadmit di rumah sakit hari ini
untuk jadwal operasi besok, tapi tidak mempunyai pengetahuan dan tidak
di kasih tahu tentang jenis operasi, anesthesia, siapa dokter yang mau
mengoperasi dia, resiko, lamanya tinggal setelah operasi, dll, sampai
informed consent yang harusnya kita sebagai witness akhirnya mengerjakan
tugas limpahan dari mereka karena kondisi, yang sebagian besar waktu
kita terfokus dan mengerjakan tugas limpahan, apakah kondisi ini dapat
diterima secara professional? sehingga secara otomatis kita terjebak
kepada komunikasi gaya pertama.
Wassalam
Saturday, November 29, 2008
refleksi komunikasi
Oleh: Sardi
Komunikasi dalam keperawatan sangat vital keberadaanya. komunikasi merupakan
proses perpindahan pesan atau informasi dari pengrim ke pada penerima. Elemen
elemen kominikasi antara lain Sender atau pengirim, Encoding, transmissian,
Decoding,
Action dan feedback.
Sebagai seorang perawat setiap harinya kita berkomunikasi baik itu dengan pasien,
sesama perawat dan juda dengan tim kesehatannya lainnya. kegagalan kita dalam
berkomunikasi dapat berakibat pada pelayanan keperawatan yang kita berikan
terhadap
pasien. sebagai contoh pada saat kita mealkukan pengkajian kegagalan untuk
memperoleh informasi dari pasien secara lengkap akan mempengaruhi terhadap
keputusan kita tentang kebutuhan dan masalah keperawatan yang ada pada pasien,
komunikasi antara perawat dengan pasien dipengaruhi antara lain oleh gara
komunikasi yang digunakan oleh perawat serta, untuk dikuwait terutama, oleh
kemampuan bahasa
serta tingkat pengetahuan perawat dan juga pasien. pasien yang terdiri dari
berbagai
macam bangsa dan latar belakang pendidikan merupakan tantanga yang paling besar,
tidak semua pasien mengerti bahasa inggris atau bahasa arab dengan baik begitu juga
dengan perawat tidak semua perawat mahir dalam bahasa inggris dan juga arab atau
bahasa lainnya sehingga terkadang terjadi salah persepsi atau penafsiran dari apa yang
ditanyakan atau disampaikan oleh pasien. terkadang juga terjadi keluhan atau komplain
dari pasien hanya karena komunikasi yang tidak jelas.
komunikasi juga terjadi antara perawat dengan perawat sehari hari baik dalam satu unit
atau pun ketika mentrnsfer patien keunit yang lain misalnya ICU, OT, atau keruangan
yang lainnya atau bahkan rumah sakit atau institusi yang lainnya, kualitas komunikasi
yang kita lakukan akan sangat berpengaruh terhadap kelanjutan peawatan yang akan
diterima oleh pasien, kendalanya lagi lagi pada bahasa dan pengetahuan serta
pengalaman perawat, perbedaab cara pengucapan kata, dialeks, serta istilah yang sulit
bisa membuat salah penafsiran terutama jika komunikasi dilkukan hanya secara lisan
misalnya melalui telepon.
Kominikasi juga terjadi antara perawat dengan profesi keshatan yang lainnya, dokter
terutama sangat tergantung pada informasi yang diberikan oleh perawat dalam
menentukan diagnosis dan treatment, keselahan kita menyampaikan data misalnya vital
signs, riwayat kesehatan, lab report, akan menyebabkan kesalahan pada keputusan
yang dibuat oleh dokter dan juga profesi kesehatan yang lainnya.
oleh sebab itu sebagai seorang perawat yang profesional kita harus mengembangkan
pengetahuan dan kemampuan kita terutama dalam berkomunikasi, gunakan gaya
komunikasi biopsikososial agar informasi yang didapat lebih menyeluruh, validasi ulang
semua informasi yang kita dapatkan baik secara langsung atau pun dari telepon, catat
segera dan dokumentsikan segera informasi yang kita terima, dan banyak hal lainnya
yang bisa kita lakukan.
Wassalam,
Sardi.
Wednesday, November 26, 2008
Culture Care Diversity and Universality
Culture Care Diversity and Universality
Madeleine M. Leininger
Pendidikan Madeliene M. Leininger
Tahun 1948 lulus dari St. Anthony’s School of Nursing, Denver, CO.
Tahun 1950 mendapat BSN dari Benedictine College, Atchison, KS.M.
Tahun 1953 memperoleh MSc Keperawatan dari Catholic University, Washington, DC.
Tahun 1965 mendapat gelar PhD dalam Antropology dari University of Washington, Seattle.
DASAR TEORI LEININGER
Tahun 1940an à caring penting dalam keperawatan dan care adalah etos dominan keperawatan.
Tahun 1950an à cultural shock : adanya recurrent behavioral differences à perbedaan ini punya dasar kultural .
Kurangnya pengetahuan tentang kultural anak sebagai missing link dalam keperawatan untuk memahami variasi dalam perawatan klien .
Dasar Teori Leininger
Tahun 1979 : Transcultural care yaitu :
Suatu sub bidang pelajaran atau cabang keperawatan yang berfokus pada studi komparatif dan analisis kultural mengenai praktek, keyakinan, dan nilai-nilai keperawatan dan perawatan sehat sakit.
Tujuan
Menyediakan/memberikan pelayanan asuhan perawatan yang bermutu dan efektif kepada orang lain berdasarkan nilai-nilai kultural mereka dan konteks sehat – sakit. Dibangun dari pemikiran bahwa manusia dari tiap kebudayaan tidak hanya dapat mengetahui dan mendefinisikan pengalaman dan perasaan dunia keperawatan mereka tetapi juga dapat menghubungkan pengalaman dan perasaan itu ke kepercayaan dan praktek kesehatan umum mereka
Konsep Teori Leininger
Tahun 1991,definisi yang lebih berorientasi untuk konsep :
Culture, cultural care, cultural care diversity, cultural care universality, nursing, worldview, dimensi struktur budaya dan social, konteks lingkungan, ethnohistory, generic (folk or lay) care system, sistim perawatan profesional, kesehatan, care/caring, culture care preservation, accommodation dan repatterning
Budaya : keseluruhan nilai, kepercayaan, norma, dan cara hidup yang dipelajari, dibagi dan ditransmisikan dalam kelompok tertentu yang menuntun mereka dalam berpikir, mengambil keputusan dan bertindak dalam pola tertentu.
Melekat dalam : bahasa, agama, sosial, politik, pendidikan, ekonomi, teknologi, lingkungan.
Cultural care à yang membantu, mendukung untuk memelihara kondisi & meningkatkan kesehatan.
Cultural Care Preservation : maintenance
Cultural Care Accomodation : negotiation
Cultural Care Repatterning : restrukturisasi
Health : status keadaan manusia yg secara kultural merefleksikan kemampuan melakukan aktifitas harian dlm cara hidup yg terpola
Development of the theory
Dikembangkan Terutama sekali untuk menemukan jalan dan maksud dalam memberi kepedulian terhadap masyarakat yang mempunyai nilai-nilai berbeda dan jalan hidup masing-masing.
Di desain untuk memandu perawat dalam menyediakan pelayanan keperawatan
Teori ini tidak hanya berpusat pada interaksi perawat-klien tetapi berfokus juga meliputi kepedulian keluarga, kelompok, masyarakat, kultur dan institusi
Leininger mengkritisi empat konsep keperawatan yaitu manusia, kesehatan, lingkungan dan keperawatan
Definisi konseptual menurut asumsi dan teori dari M. Leininger
Ø Manusia : seseorang yang diberi perawatan dan harus diperhatikan kebutuhannya
Ø Kesehatan : konsep yang penting dalam perawatan transkultural
Ø Lingkungan tidak didefinisikan secara khusus, namun jika dilihat bahwa telah terwakili dalam kebudayaan, maka lingkungan adalah inti utama dari teori M. Leininger
Ø Keperawatan. Beliau menyajikan 3 tindakan yang sebangun dengan kebudayaan klien yaitu Cultural care preservation, accomodation dan repatterning
Kasus
— Seorang wanita bersuku jawa, bernama Ny M berumur 61 tahun, pendidikan terakhir S1 dengan gelar Spd, masuk rumah sakit 3 hari yang lalu karena stroke dan sedang dalam masa pemulihan. Sekarang dia menderita kelemahan pada tubuh bagian kiri. Dia dirawat di RS B dikelas 1 dengan 1 orang pasien lainnya. Sebelum dia masuk rumah sakit karena stroke Ny M memelihara rumahnya sendiri dan cukup mandiri. Dia merupakan wanita yang ulet dan mandiri serta percaya dengan kemampuannya sendiri. Dia mengatakan bahwa dia juga aktif dalam berpolitik. Rumahnya berada di lingkungan tempat tinggal yang masih memegang kepercayaan tradisional yaitu tidak boleh merubah bentuk rumah sehingga daerah itu mempunyai nilai historis.
PEMBAHASAN
v Pengkajian
Dikaji berdasar aspek-aspek yang biasanya melekat dalam budaya antara lain:
• Kinship dan struktur sosial: janda dengan dua anak, aktif dalam kelompok lansia dan menjadi tenaga sukarela bagian administrasi ditempatnya bekerja 1x seminggu.
• Professional: dokter merupakan kepala tim dan profesi lainnya juga merupakan bagian dari tim.
• Keperawatan: juga bagian dari tim, mengidentifikasi kebutuhan perawatan makan yaitu kebutuhan ADL.
v Diagnosa Keperawatan
— Berdasarkan dari area Diversity dan Universality yang belum terpenuhi, termasuk kebutuhan akan kemandirian akan mobilitas, makan, BAB, BAK dan kebutuhan interaksi dengan orang lain dalam kelompok lansia
v Perencanaan
— Pemberian perawatan berdasarkan kebudayaan (cultural care preservation), pengakomodasian perawatan berdasarkan kebudayaan, restrukturisasi perawatan berdasarkan kebudayaan (cultural care repatterning) atau kombinasi dari ketiga-tiganya
v Implementasi
• Pemeliharaan (preservation): membantu Ny M melakukan hubungan dengan anggota kelompok lansia yang lain.
• Akomodasi: membantunya dalam belajar menggunakan alat bantu jalan.
• Repatterning: menemaninya makan dengan menggunakan tangan kanan
v Evaluasi
• Apakah sudah terpenuhi cultural diversity dan universality?
• Apakah Ny M bisa memandang dirinya untuk melanjutkan kemandirian?
Kesimpulan
Ø Teori Leininger pada intinya menitik beratkan pada kebudayaan seseorang.
Ø Teori Leininger telah diusahakan untuk dapat diaplikasikan ke dalam berbagai budaya oleh penemunya yaitu Madeleine M. Leininger.
Ø Kekuatan utama dari teori ini adalah pentingnya pengenalan budaya dan pengaruhnya terhadap perawatan pasien.
Ø Teori Leininger sangat diperlukan dan membantu dalam praktek keperawatan, serta mendukung dalam pelaksanaan asuhan keperawatan.
Ø Dalam pelaksanaan asuhan keperawatan, perawat perlu memahami norma-norma, dan cara hidup budaya dari klien sehingga klien dapat mempertahankan kesejahteraannya, memperbaiki cara hidupnya atau kondisinya.
Ø Pemberian informasi mengenai penyakit dan prosedur pengobatan kepada klien/ keluarga klien akan membantu kelancaran pengobatan.
SARAN :
Ø Hendaknya ada pemberian informasi yang jelas dari perawat kepada klien, sehingga tidak ada suatu penolakan klien dalam pengobatannya.
Ø Walaupun klien termasuk orang yang berpendidikan, hendaknya klien menerima anjuran yang diberikan dokter yang menanganinya.
Ø Seharusnya perawat lebih memperhatikan kebutuhan klien.
References :
Ø matsum.blogspot.com/2008/05/penerapan-teori-madeleine-leininger
Ø nursingart.blogspot.com/2008/07/nursing-theory
Followers
Nursing students
- MAHASIWA E-LEARNING UNPAD DI KUWAIT
- Kuwait
- Sardi, Sandi Effendi, Asep Maekel, Ridwan Jamaluddin, David Maulana Abdillah, Hernawati Husair